Pia Amanda Nurhusni

Tidak ada yang bisa dipercaya

Tidak Aku, Tidak juga dia, apalagi Kita?

Ha. Itu semua bukan lagi sekedar fatamorgana, melainkan adalah yang senyatanya

Ketika percaya hanya akan diakhiri kata bernama luka

Lalu dengan kata apalagi parafrase itu harus Ku ganti

Merinding, ketika memikirkan berapa lama waktu yang akan dihabiskan para ahli tata bahasa

Hanya untuk menemukan pengganti kata percaya yang lebih manusiawi dan lebih bisa dimaknai

Karena pada kenyataannya kata itu sering kali memaksa sesuatu yang bening di sudut mata menatap dunia.

Mungkinkah kata tersebut sebenarnya adalah bagian dari lelucon jenaka

Yang salah penempatan oleh nenek moyang kita?

Akh. Aku terlalu berkhayal!

Sejujurnya, mungkin itulah apa adanya

Bahwasanya sebuah kata percaya adalah tak bisa dipercaya!

– Kaki Gunung Tangkuban Perahu –

2010

Pia Amanda Nurhusni
Kamu dan ceritamu
adalah salah satu bagian terindah
yang telah dipindai Tuhan untuk aku nikmati

Namun mungkin,
aku terlalu jumawa
merasa satu-satunya manusia
yang mendapati kesempatan itu bak pemenang lotre

Hingga akhirnya Tuhan berikan teguran
dengan berikan kesempatan pada yang lain
untuk juga menikmatinya
keindahanmu dan rangkaian cerita bersamamu.

Tuhan, kalau boleh aku pinta
Aku ingin dia dan ceritanya
yang cukup untuk kami saja.
tanpa ada dia-dia yang lain ...


- 5 Juni 2011, Kaki Gunung Tangkuban Perahu -