Hai! Selamat bertemu kembali !
Hari ini saya dan teman-teman baru saja selesai melaksanakan psikotes di salah satu SMP Negeri di Banjarsari. Pengalaman pertama melaksanakan psikotes di daerah tersebut setelah sebelumnya lebih dulu menginap di Rancah, tempat asal Dosen yang notabene koordinator tes kali ini. Sepulang melaksanakan psikotes kali ini ada yang berbeda, kami mampir dulu ke tempat peristirahatan di karang kamulyan yang terkenal dengan nama Ciung Wanara.
Hmm.. sebetulnya saya sudah lama sekali penasaran dengan tempat ini. Secara sebetulnya bila saya berlibur ke Pangandaran saya pasti melewati tempat ini. Dan entahlah, saya memang memiliki ketertarikan sendiri terhadap wisata budaya di Indonesia yang sungguh amat kaya dengan warisan budayanya. Sayang, ingatan saya tidak cukup bagus untuk menampung semua penuturan menarik yang telah orang sampaikan mengenai situs-situs wisata budaya yang pernah saya tanyakan. Maka dari itu sepertinya menuliskan pengalaman saya kali ini di blog mudah-mudahan menjadi salah satu alternatif yang dapat membantu saya untuk meng"keep" cerita-cerita tentang hal-hal yang menarik bagi saya, utamanya kali ini tentang tempat wisata Ciung Wanara. Oke, Let's the information begin..
Ciung Wanara
Tempat wisata Ciung Wanara atau yang terkenal dengan sebutan situs Karang kamulyan merupakan situs purbakala bersejarah dan situs arkeologi yang terletak di Desa Karangkamulyan, Cijeungjing, Ciamis, Jawa Barat, Indonesia. Situs ini merupakan peninggalan dari zaman Kerajaan Galuh yang bercorak Hindu-Buddha. Situs Karangkamulyan merupakan peninggalan Kerajaan Galuh Pertama, menurut penyelidikan Tim dari Balar yang dipimpin oleh Dr Tony Jubiantoro pada tahun 1997, di tempat ini pernah ada kehidupan mulai abad ke IX, karena dalam penggalian telah ditemukan keramik dari Dinasti Ming.
Legenda Situs Karang Kamulyan
Legenda situs Karangkamulyan berkisah tentang Ciung Wanara yang berhubungan dengan Kerajaan Galuh. Cerita ini banyak bertutur tentang kisah kepahlawanan yang luar biasa seperti kesaktian yang tidak dimiliki oleh orang biasa namun dimiliki oleh Ciung Wanara. Kisah Ciung Wanara merupakan cerita tentang Kerajaan Galuh (zaman sebelum berdirinya Kerajaan Majapahit dan Pajajaran). Tersebutlah raja Galuh saat itu Prabu Adimulya Sanghyang Cipta Permana Di Kusumah dengan dua permaisuri, yaitu Dewi Naganingrum dan Dewi Pangrenyep. Mendekati tibanya ajal, sang Prabu mengasingkan diri dan kekuasaan diserahkan kepada Patih Bondan Sarati karena Sang Prabu belum mempunyai anak dari permaisuri pertama (Dewi Naganingrum). Singkat cerita, dalam memerintah Raja Bondan hanya mementingkan diri sendiri, sehingga atas kuasa Tuhan Dewi Naganingrum dianugerahi seorang putera, yaitu Ciung Wanara yang kelak akan menjadi penerus resmi kerajaan Galuh yang adil dan bijaksana. Kelak Ciung Wanara berhasil merebut tahta kerajaan Galuh bukan dengan peperangan melainkan dengan memenangkan sabung ayam (cara yang disukai raja ketika itu) dengan mudahnya.
Kawasan yang luasnya kurang lebih 25 Ha ini menyimpan berbagai benda-benda yang diduga mengandung sejarah tentang Kerajaan Galuh yang sebagian besar berbentuk batu. Batu-batu yang terdapat di situs ini memiliki nama dan sejarahnya sendiri. Batu-batu ini diantaranya adalah Sanghyang Bedil, Lambang Peribadatan, Cikahuripan, Pangcalikan dan Panyabungan ayam.
Sanghyang Bedil
Tempat yang disebut "Sanghyang Bedil" merupakan suatu ruangan yang dikelilingi tembok berukuran 6.20 x 6 meter. Tinggi tembok kurang lebih 80 cm. Pintu menghadap ke arah utara, di depan pintu masuk terdapat struktur batu yang berfungsi sebagai sekat (schutsel). Di dalam ruangan ini terdapat dua buah menhir yang terletak di atas tanah, masing-masing berukuran 60 x 40 cm dan 20 x 8 cm. Bentuknya memperlihatkan tradisi megalitik. Menurut masyarakat sekitar, "Sanghyang Bedil" dapat dijadikan pertanda datangnya suatu kejadian, terutama apabila di tempat itu berbunyi suatu letusan, namun sekarang pertanda itu sudah tidak ada lagi.
 |
| Sanghyang Bedil |
Penyabungan Ayam
Tempat ini terletak di sebelah selatan dari lokasi "Sanghyang Bedil", kira-kira 5 meter jaraknya, dari pintu masuk yakni berupa ruang terbuka yang letaknya lebih rendah. Masyarakat sekitar situs menganggap tempat ini merupakan tempat sabung ayam Ciung Wanara dan ayam raja. Di samping itu merupakan tempat khusus untuk memlih raja yang dilakukan dengan sistem demokratis.
 |
| Panyabungan ayam Ciung Wanara |
 |
| Pohon dengan lubang unik di Panyabungan |
Lambang Peribadatan
Batu yang disebut sebagai "Lambang Peribadatan" merupakan sebagian dari kemuncak, tetapi ada juga yang menyebutnya sebagaifragmen candi, masyarakat menyebutnya sebagai stupa. Bentuknya indah dihiasi oleh pahatan-pahatan sederhana yang merupakan peninggalan Hindu. Letak batu ini berada di dalam struktur tembok yang berukuran 3 x 3 m, tinggi 60 cm. Batu kemuncak ini ditemukan 50 m ke arah timur dari lokasi sekarang. Di tempat ini terdapat dua unsur budaya yang berlainan yaitu adanya kemuncak dan struktur tembok. Struktur tembok yang tersusun rapi menunjukkan lapisan budaya megalitik, sedangkan kemuncak merupakan peninggalan agama Hindu.

Panyandaran
Terdiri atas sebuah menhir dan dolmen, letaknya dikelilingi oleh batu bersusun yang merupakan struktur tembok. Menhir berukuran tinggi 120 cm, lebar 70 cm, sedangkan dolmen berukuran 120 x 32 cm. Menurut cerita, tempat ini merupakan tempat kelahiran Ciung Wanara. Di tempat itulah Ciung Wanara dilahirkan oleh Dewi Naganingrum yang kemudian bayi itu dibuang dan dihanyutkan ke sungai Citanduy. Setelah melahirkan Dewi Naganingrum bersandar di tempat itu selama empat puluh hari dengan maksud untuk memulihkan kesehatannya setelah melahirkan.
Cikahuripan
Di lokasi "Cikahuripan" tidak terdapat tanda-tanda adanya peninggalan arkeologis. Tetapi merupakan sebuah sumur yang letaknya dekat dengan pertemuan antara dua sungai, yaitu sungai Citanduy dan sungai Cimuntur. Sumur ini disebut "Cikahuripan" karena dianggap berisi air kehidupan (dimana air dipercaya sebagai lambang kehidupan). Sumur ini merupakan sumur abadi karena airnya tidak pernah kering sepanjang tahun.
Makam Adipati Panaekan
Di lokasi Makam Adipati Panaekan ini tidak terdapat tanda-tanda adanya peninggalan arkeologis. Tetapi merupakan batu yang berbentuk lingkaran bersusun tiga, yakni merupakan susunan batu kali. Dipati Panaekan adalah raja Galuh Gara Tengah yang berpusat di Cineam dan mendapat gelar Adipati dari Sultan Agung Raja Mataram.

Nah.. Itu tadi sekilas mengenai situs budaya Ciung Wanara atau yang juga dikenal dengan situs Karangkamulyan. Tempat ini sebetulnya memiliki daya tarik yang cukup kuat dari perspektif sejarah. Melihat, mencari tahu dan memahami situs budaya yang terdapat di Karangkamulyan ini dapat membantu kita semakin mengenali keberagaman kisah di masa lampau. keberagaman budaya tempo dulu. Sayang, situs ini nampak kurang mendapat perhatian serius dari pemerintah setempat hal tersebut terbukti dengan kurangnya perawatan di dalam area karangkamulyan, nampak pohon yang tumbuh liar tanpa dirapihkan dan sampah-sampah sisa makanan di pinggirannya. Jika saja perawatan terhadap situs ini dioptimalisasikan akan sangat membantu masyarakat sekitar untuk menambah referensi alternatif wisata budaya yang menarik dan edukatif serta meningkatkan pendapatan daerah setempat. Semoga kita bisa menjadi bagian yang selalu menghargai budaya kita yaa! Sampai jumpa di lain cerita!
 |
| Sisa Jalan Kuno yang menghubungkan Kerajaan Padjajaran dan Majapahit |
 |
| *Bersama Teman-teman Tester* |
Referensi:
Wikipedia. (2012). Situs Karangkamulyan. [Online]. Tersedia di: Wikipedia.com.
AMGD. (2012). Budaya-situs KarangKamulyan. [Online]. Tersedia di: Navigasi.NetMarselia, M. (2006). Bojong Galuh Karangkamulyan – Ciung Wanara. [Online]. Tersedia di: Miramarselia.com
Foto-foto:
AMGD. (2012). Budaya-situs KarangKamulyan. [Online]. Tersedia di: Navigasi.Net
Aradsa, A. (2012). Berkunjung ke Situs Karang Kamulyan. [Online]. Tersedia di: Aradsa.com
Dokumentasi Pribadi (Pia Amanda Nurhusni; 8 September 2012)
Kabarindonesia.com