Kisah belalang tua, di ujung daun,
yang hampir jatuh, tapi tak jatuh..
Potongan lagu ini "ngena banget" untuk saya yang sedang hampir jatuh menyerah.
Iya, saya sedang bingung dengan keruwetan yang ada. Bukan, bukan kegalauan tentang cinta. tapi kegalauan tentang penyesaian studi akhir saya.
Pada hakikatnya Tuhan belum menghendaki saya lulus mungkin sedang mempersiapkan sesuatu yang baik ketika saya lulus nanti. entah apapun itu. Namun begitu saya tetap harus berusaha maksimal untuk mencapai target saya.
Ya, target yang kurun waktunya molor jauh dari target awal.
Sedih? Sangat! Tertekan? Ya,, akhir-akhir ini semakin terasa pressure nya.
Sedih? Sangat! Tertekan? Ya,, akhir-akhir ini semakin terasa pressure nya.
Tidak lagi berasal dari luar saya. tapi semuanya kini berasal dari diri saya.
Saya punya banyak kepentingan dengan kelulusan saya yang segera.
Bukan hal yang mudah menjadi seorang kakak pertama yang tidak bisa melakukan apa-apa saat tau ibunya sangat membutuhkan kehadirannya.
Iya, bagi beberapa orang mungkin melihat sosok ibu rumah tangga adalah pekerjaan mudah, bahkan mungkin tampak seperti rutinitas biasa.
Tapi tidak untuk saya. Dari sana saya pertama kali mendapat didikan. dari tangan yang mulai terasa berkeriput. dari tatapan wajah yang sudah mulai menampakkan kerut.
Bisa dibayangkan, berapa banyak pekerjaan yang harus dilakukannya dalam satu hari?
Mulai dari menyiapkan sarapan anak-anaknya, mencuci pakaian seisi rumah, mencuci bekas makan anak-anaknya, membersihkan rumah.
Saya sudah sering kali mencobanya. tetapi sangat jauh dari sempurna. sangat jauh dari yang biasa dilakukan mama.
Dengan fisik saya yang jauh masih muda dibanding mama saya saya masih sering merasa lelah mengerjakan semua itu, bahkan terkadang sampai mengeluh. Padahal mama saya melakukan itu sebagai rutinitasnya setiap hari dan sudah dilakukan selama puluhan tahun. Lalu pernahkah saya mendengar mama saya mengeluh lelah? tidak.
Saya semakin tertunduk malu. apa arti keluhan saya kalau hanya sehari dua hari ada di rumah melakukan itu semua tanpa mengeluh.
Bukan hal yang mudah, menahan emosi melihat anak-anaknya bertengkar. Saya sangat merasakan itu ketika melerai adik-adik saya yang sedang bertengkar. Malah kadang saya tidak bisa menahan diri ikut serta dalam pertengkaran itu.
Bukan hal mudah mempersiapkan sarapan untuk suami dan anak selama bertahun-tahun agar mereka tidak merasa jenuh dan selalu rindu pulang akan rumahnya.
Bukan hal mudah membagi perhatian antara anak dan suami. antara keluarga suami dan keluarganya sendiri.
Bukan hal mudah menanamkan pada anak-anaknya untuk mengatur keuangan sedemikian rupa karena kami bukan berasal dari keluarga yg berlebih. Iya, berulang kali mama dan bapa mengingat bagaimana mereka bisa berjuang ke titik ini dari titik 0 mereka.
Bukan hal yang mudah bagi mereka menahan rindu pada anaknya sedangkan anak mereka. Ya, miris memang rasanya ketika beberapa lalu terbersit kisah lalu. Seringkali saya pulang dalam keadaan saya penat dengan dunia kampus. saya penat dengan permasalahan yg sedang saya alami. Bodoh sekali bukan? Anak macam apa saya ini pulang malah membawa rasa penat dan terkadang meminta kompensasi untuk tidak banyak beraktivitas di rumah karena alasan capek di kampus, ke rumah hanya untuk beristirahat. Ya Tuhan, saya telah membiarkan mama saya merasakan sisa-sisa rindu, sisa-sisa waktu, sisa-sisa tenaga!
Padahal jelas sekali Engkau panggil namanya berulang-ulang bahwa untuk ibu, ibu, ibu! lalu kemudian bapa! tidak ada itu dosen, teman, pacar atau yang lainnya! Sedangkan saya?
Padahal jelas sekali Engkau panggil namanya berulang-ulang bahwa untuk ibu, ibu, ibu! lalu kemudian bapa! tidak ada itu dosen, teman, pacar atau yang lainnya! Sedangkan saya?
Yah sebelas-duabelas dengan apa yang saya lakukan pada mama, begitu pula pada Bapa. Seringkali saya meminta tambahan uang untuk keperluan saya yang saya rasa belum cukup. Sombong sekali saya! Seharusnya saya bisa mengatur keuangan dengan baik, bukan begitu?
uang yang mereka dapatkan tidak seharusnya semua mereka berikan kepada kami, kepada anak-anaknya yang seringkali tidak tau diri.
Setiap senin pagi jam 3 subuh. Rutinitas bapa naik motor utk mengejar bis terpagi yang tiba di bandung sebelum jam 7. Perjalanan tasik - bdg kini sudah tidak seramah dulu. Fisiknya sudah nampak mulai protes, seringkali saya melihat nafasnya tersengal. Bagaimana tidak lelah, seringkali beliau bepergian keluar kota dalam jarak yang dekat dengan kendaraan umum.
Padahal saya saja sudah mulai mengeluh capek dijalan menjalani rute seperti itu. tapi apa beliau pernah menyerah? tidak!
Yang beliau tau ada seorang istri dan empat orang anak yang perlu dinafkahinya.
Yang beliau tau fisiknya akan tetap bersahabat dengan jalanan ketika beliau memang masih mampu.
Yang beliau tau adalah memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya.
Yang beliau tau fisiknya akan tetap bersahabat dengan jalanan ketika beliau memang masih mampu.
Yang beliau tau adalah memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya.
Ya, seringkali beliau memberi tanpa kami minta. Meskipun yang beliau beri adalah alat, tidak semata-mata keinginan kami yang tanppa tujuan beliau penuhi.
Tidak kuasa melihat fisik beliau yang semakin merenta, berulang kali saya sarankan beliau untuk berangkat kerja naik travel, tapi apa jawabnya?
"Bukankah sebaiknya kita berbagi selagi bisa? apalagi sama saudara.. " Jawabnya dengan senyum yang justru semakin membuatku miris.
"Bukankah sebaiknya kita berbagi selagi bisa? apalagi sama saudara.. " Jawabnya dengan senyum yang justru semakin membuatku miris.
Iya, Bapa lebih memilih diantar ke tempat menunggu bis oleh saudaranya agar bisa sedikit berbagi rejeki pada saudaranya itu.
Sungguh, melihat setiap pengorbanan yang beliau lakukan saya semakin merasa kecil. Ketika pulang sendiri beliau lebih memilih naik bis dengan ongkos termurah 9.000 dengan fisik yang sudah lelah pulang bekerja bahkan kadang seharian belum makan. Tapi apa yang beliau lakukan ketika pergi bersama anak dan istrinya? beliau selalu berusaha memberikan yg terbaik.. menyarankan kami naik travel terbaik agar mendapatkan pelayanan yg membuat kami nyaman.
Ada perasaan bangga sekaligus malu bila mengingat pengorbanan beliau. Bagaimana tidak? Beliau memulainya benar-benar dari bawah, dari titik terendah, semua dilakukannya dengan kemampuannya sendiri. saat rekannya yang lain berlomba-lomba sekolah tinggi untuk mencapai posisi yang tinggi, beliau yang hanya lulusan diploma tiga dengan usahanya ditawari untuk menempati posisi yang seharusnya tidak diperuntukkan bagi sekedar jenjang diploma.
Iya, ini yang selalu mama katakan, "Bukan nggak ingin teh bapa dulu sekolah lagi, tapi ya gimana lagi, kan biayanya dipakai untuk hidup kita,, untuk sekolah kamu sama adek-adek kamu.."
Tuhan, jika ingat itu semua, mama yang masih membesarkan saya dan adik-adik saya yang masih jauh perjuangannya, ingat bapa yang tidak pernah mengeluh dengan fisiknya yang sudah mulai merenta, saya malu! saya malu untuk semua keluhan saya. saya malu jika saya harus menyerah dalam penyelesaian tugas akhir saya ini. Saya tau kesulitan itu pasti ada, tapi Tuhan, tolonglah.. "Allohumma Yassir, Wala tu'assir.." "Mudahkanlah, jangan dipersulit"
beri saya kemampuan melewati semua ini, beri saya kekuatan menyelesaikan satu persatu tugas saya, beri saya kesempatan untuk menunjukkan rasa syukur saya pada-Mu karena telah dibesarkan oleh mereka.
beri saya kemampuan melewati semua ini, beri saya kekuatan menyelesaikan satu persatu tugas saya, beri saya kesempatan untuk menunjukkan rasa syukur saya pada-Mu karena telah dibesarkan oleh mereka.
Bantu saya untuk selalu kembali semangat ketika saya ada di titik terendah, Engkau yang Maha Menghendaki..
Sebesar apapun rintangan yang saya hadapi, Engkau jauh lebih besar untuk menyelamatkan saya, untuk membantu saya melewati rintangan itu..
Semoga, kehadiran saya bisa bermanfaat untuk adik-adik saya. semoga saya bisa memberikan hal yang sama kepada adik-adik saya seperti apa yang sudah mama dan bapa berikan kepada saya.
Semangat, semangat, semangat!
Saya yakin, saya masih bisa merapihkan benang kusut ini. menyelesaikan bagian saya, tugas akhir saya! Bismillah..
Ijinkan kedua orangtua saya menikmati sukses dari apa yang telah mereka tanam di diri saya dan adik-adik saya Tuhan. Engkau Yang Maha Pengasih, Payungi selalu mereka dengan rahman dan rahimmu :')
Saya yakin, saya masih bisa merapihkan benang kusut ini. menyelesaikan bagian saya, tugas akhir saya! Bismillah..
Ijinkan kedua orangtua saya menikmati sukses dari apa yang telah mereka tanam di diri saya dan adik-adik saya Tuhan. Engkau Yang Maha Pengasih, Payungi selalu mereka dengan rahman dan rahimmu :')




Posting Komentar