Akhirnya tiba jugalah pada hari ini, hari dimana ceremonial kelulusan saya (dan seluruh mahasiswa yang sudah melaksanakan sidang) sebagai seorang sarjana dirayakan besar-besaran oleh kampus kami tercinta, Universitas Pendidikan Indonesia. Hari pelaksanaan wisuda kami bertepatan dengan tanggal cantik yang tertera pada kalender masehi, 20-12-2012 a.k.a 20 Desember 2012.
Ada perasaan senang, bahagia, haru, sedih, dan juga cemas menghampiri. Perasaan pertama yang saya rasakan tentu merasa senang dan bahagia. Acara wisuda ini merupakan penanda bahwa kami telah lulus dari kampus kami tercinta. Dan siapa yang tidak akan berbahagia ketika seseorang dinyatakan sudah menyelesaikan satu tahapan masa studi? Tentu, saya merasakan perasaan yang sangat mainstream sekali disini, saya sangat senang dan berbahagia ^^
Perasaan haru terselip disana, ketika nama para wisudawan disebut satu persatu dalam megahnya gymnasium UPI, dan terdengar jelas nama saya menjadi salah satu nya, Pia Amanda Nurhusni, S.Pd. Sebuah moment yang cukup menyentak untuk saya bersyukur kepada Allah SWT. Sebuah moment dimana saya diingatkan betapa nikmat apa yang tidak Tuhan berikan kepada saya? Betapa saya sedang ditunjukkan sebuah hasil jerih payah do'a dan usaha bapa mama saya. Tiga lembar berharga di dalam sini, Ijazah, transkrip nilai dan akta IV ini merupakan hasil cucuran keringat bapa mama saya, do'a mereka yang tiada henti meski tidak saya pinta sekalipun. Dan baru ini, Ma, Pa, yang bisa anakmu berikan di hari ini. Semoga ilmu dan rezeki yang berkah senantiasa menyertai melalui tiga lembaran berharga hasil jerih payah kalian selama ini untuk mendukung penyelesaian studi saya di Universitas Pendidikan Indonesia. Untuk saya orang tua seperti mereka sangatlah luar biasa, seorang bapa yang lulusan Diploma dan ibu yang lulusan SKKA (setara dengan SMA jaman sekarang) dapat mengantar anaknya menjadi seorang Sarjana. Terimakasih Ya Allah, Terima kasih Mama, Terima kasih Bapa..
Saya selalu teringat bahwa mereka cukup memanjakan saya untuk apa yang saya butuhkan bukan apa yang saya inginkan. Ya, dulu saya seringkali meminta uang sekedar Rp 9.000,- untuk membeli sebuah komik tapi mereka sama sekali tidak memberikannya. Mereka berfikir karena barang itu keinginan saya bukan kebutuhan saya maka saya harus mendapatkannya dengan menyisihkan uang jajan saya sendiri. Berbeda jelas ketika saya baru berfikir untuk membutuhkan alat bantu mengerjakan tugas ketika akan masuk perguruan tinggi, mereka memfasilitasi saya dengan sebuah laptop semenjak semester awal. Dan mereka memberikan itu tanpa saya minta.
Teringat kata-kata Mama ketika Saya, Mama dan Bapa sedang bercengkrama sebelum hari H Wisuda. Bapa saya dari dulu memang jauh lebih mementingkan keperluan pendidikan anak-anaknya ketimbang kebutuhan tersier lainnya. Mama bilang ketika Gaji Bapa sangat pas-pasan untuk menghidupi keluarga kami yang hidup di perantauan Beliau tetap berusaha menyisihkan sebagian uangnya untuk membeli Kamus Besar Bahasa Inggris. Padahal ketika itu saya baru menginjak SD kelas 1 yang sebetulnya keperluan tersebut masih bisa ditunda. Ya, ketika para orang tua lain sibuk mendandani anak-anaknya dengan sepatu bermerk, perhiasan semacam kalung ataupun gelang, Bapa saya justru menyisihkan uangnya untuk mempersiapkan kebutuhan pendidikan anaknya. Saya tau, bukan tidak ingin Bapa saya memberikan barang-barang tersebut kepada kami anak-anaknya, tapi keterbatasan keluarga kami saat itu telah membuat bapa selektif dalam mengatur skala prioritas.
Dan hari ini, meskipun saya bersedih dengan ketidakhadiran bapa saya pada acara yang seharusnya jadi hadiah untuk Bapa dan Mama, saya tetap menaruh rasa syukur dan bangga memiliki mereka sebagai hal yg utama. Liat Pa, hari ini alhamdulillah do'a dan usaha mama bapa berhasil mengantarkan teteh jadi sarjana. High Heels yang teteh pake hari ini adalah high heels yang pertama dan satu-satunya teteh punya, pemberian bapa waktu nikahan Ba Evi empat taun yang lalu.. Ketidakhadiran bapa tetap menghadirkan bukti do'a bapa yang nyata, kelulusan teteh hari ini, duduknya teteh di gymnasium ini dan semua ini milik mama dan bapa :')
Saya akui saya bersedih ketika mendapati kabar bahwa bapa saya harus bertugas ke Padang di hari wisuda saya ini, padahal sejak jauh-jauh hari kami sudah merencanakan akan pergi bersama dan kemudian berfoto bersama. Dan sehari menjelang keberangkatan ke Bandung racap saya pun batal menghadiri wisuda saya karena pada waktu bersamaan dia mendapat panggilan psikotes kerja di Yogyakarta. Tapi tidak apa, mungkin Allah sedang menunjukkan kasih sayangNya kepada saya bahwa saya tidak boleh takabur, apapun dan serasa sesempurna apapun tetap Allah memiliki jalan terbaik yang akan Ia tunjukkan pada umatNya pada saat yang tepat.
Saya akui saya bersedih ketika mendapati kabar bahwa bapa saya harus bertugas ke Padang di hari wisuda saya ini, padahal sejak jauh-jauh hari kami sudah merencanakan akan pergi bersama dan kemudian berfoto bersama. Dan sehari menjelang keberangkatan ke Bandung racap saya pun batal menghadiri wisuda saya karena pada waktu bersamaan dia mendapat panggilan psikotes kerja di Yogyakarta. Tapi tidak apa, mungkin Allah sedang menunjukkan kasih sayangNya kepada saya bahwa saya tidak boleh takabur, apapun dan serasa sesempurna apapun tetap Allah memiliki jalan terbaik yang akan Ia tunjukkan pada umatNya pada saat yang tepat.
Hmm.. Tak hanya itu, saya juga bersedih karena secara ceremonial saya akan berpisah dengan sahabat-sahabat saya, teman-teman kampus saya, kenangan akan Bandung yang ramah dan menyenangkan. Mulai saat ini kami benar-benar akan menjalani hidup kami masing-masing. Kembali ke daerah masing-masing sebelum akhirnya kami bertemu kembali di saat yang sudah lebih sukses dan lebih baik dari saat ini :')
Bagaimanapun ini adalah awal dari semuanya, maka seyogyanya Saya harus lebih semangat untuk berpacu dengan waktu meraih apa yang menjadi impian saya, mewujudkan apa yang menjadi harapan kedua orang tua saya, meraih kesuksesan dunia akhirat. Aamiin.




Posting Komentar