Pia Amanda Nurhusni
Gemuruh petir berteriak lantang!
Menyerukan ketidaksukaannya akan aku yang menangisimu
Awan berceloteh dengan rintikan hujan
yang lebih cerewet dari biasanya,
Bersahutanlah mereka!

Tapi Aku tak jua bergeming
tetap diam
masih termangu dengan sisa senyum
yang tinggal sekeping

Aku menatapinya dalam, 
dimana Kau sembunyikan Mega Merahku hai langit senja?
Berikan aku jalan menjumpainya.
Tak cukupkah kau halangi pertemuanku dengannya,
hingga kini kau larang aku ingat tentangnya pula?!

Tapi senja enggan berkomentar
ia sedang angkuh
padahal aku sedang butuh direngkuh
Sampai kapan kau akan menuai protes senja?
Ini kali keberapa kau halangi perjumpaanku dengannya..

Namun lagi-lagi tak ada jawaban
Hanya desiran angin yang semakin membesar
semakin terdengar ikut memarahiku
Kau tak tahu makna bersyukur, desisnya.

Ya, mereka tak mengijinkanku untuk ikut pergi denganmu
unntuk berjumpa dengan kau di pusaramu
Mereka menghardikku untuk segera mengikhlaskanmu
dalam kenangan yang ditelan senja,
dalam gundukan tanah merah yang berbalut do'a.
Mereka belum mau membiarkanku
untuk sama-sama berbaring bersamamu di sana.
Di rumah dengan wewangian surga...

Label: edit post
0 Responses

Posting Komentar